Powered By Blogger

Minggu, 08 April 2012

Yang Menjadi Pelajaran


Sore ini, tiba-tiba saja teringat akan kenangan dan pengalaman semasa praktek klinik dasar selama sebulan yang di mulai tanggal 14 april 2011 lalu. Saat itu aku kebagian di RSUD 45 Kuningan, sebulan bertugas disana, amat sangat menyenangkan. Aku kebagian shift dengan 2 orang teman, Ari dan Yulian. Kami juga tinggal bersama 12 teman lainnya di salah satu kossan. Setiap kebagian shift pagi, kami harus bangun pagi-pagi untuk ngantri kamar mandi. Bagiku shift tugas yang paling menyenangkan ya shift siang, sebab aku bisa bangun siang, atau aku bisa jalan-jalan melihat kota kuningan dulu dengan teman sebelum jam 2 siang.
Banyak pengalaman berharga yang aku dapat ketika praktek disana. Bukan hanya aku bisa terbiasa dengan melakukan tindakan, tetapi kepada bagaimana aku bisa terbiasa untuk melayani.
Selalu ada kisah baru di setiap ruangannya, semua kisah yang aku alami masih jelas dalam ingatan ku sampai detik ini. Dan ada satu yang ingin aku bagikan disini, kisah ketika aku mendapat tugas di ruang IGD pada minggu terakhir praktek dibulan mei.
Saat itu, sedang tidak ada pasien yang gawat, beberapa pasien sudah mendapat tindakan sebelumnya. Aku dan kedua teman sedang duduk santai melepas lelah di emperan IGD, tiba-tiba saja datang seorang ibu, berpakaian rapih tampak dia sedang memeluk sesuatu, kami sontak berlari kedalam  mengikutinya salah satu petugas bertanya dan dengan perasaan takut ibu itu menjawab, ini bayi  dibuang. Aku dan kedua temanku saling berpandangan. Benar-benr kaget. Langsung saja salah seorang bidan menggendong bayi malang itu, menimbang berat badannya dan kemudian membersihkan badannya yang tertempel rerumputan kering, aku yang saat itu benar-benar kaget, tak tau harus berbuat apa sontak membantu memunguti beberapa rumput ditubuh bayi laki-laki itu, “neng, pake sarung tangan dulu”. Selesai memakai sarung tangan, aku mulai membantu si bidan membersihkan tubuh bayi itu. Malang nian nasib bayi itu, tubuhnya merah kebiruan, isak tangisnya lebih kepada merintih, dia hipotermi.kasihan. Tampak masih ada lanugo ditubuh mungilnya, juga masih ada vernix caseosa yang melindunginya. “neng, ambilin minyak” suruh si bidan, aku bingung, “minyak apa?” tanyaku, si bidan tertawa dan matanya menujun kearah botol minyak goreng disudut jendela, aku mengerti, disitu tubuh bayi mungil itu digosok minyak agar bersih. Bayi terus saja merintih, dokter yang sedang bertugas berikut perawat lainnya datang melihat, dan disana juga telah ada polisi. Mereka menginterogasi si ibu yang membawa bayi tadi.
Disana kata si ibu, bayi itu ditemukan dihutan, hanya ada selembar baju yang melapisinya, lebih parahnya lagi, plasenta masih melekat ditubuhnya, dan kami yang memotongnya. “tega nian ibumu nak” kata seorang dokter. Bidan yang tadi membersihkan bayi itu, kemudian bersuara “masih 7 bulanan, testisnya belum turun. Saya hampir sepuluh tahun menunggu, belum dapat, dan ini yang dikasih malah nyia-nyain”.
Selesai membersihkan bayi itu, para petugas meletakkannya didalam incubator. Agar dia tidak lagi kedinginan. Kedua temanku entah dimana, mungkin ada pasien baru yang sedang mereka layani.
Aku yang dari tadi belum meninggalkan ruangan itu, malah mendapat tugas dari si bidan, untuk mengawasi bayi mungil itu. “kalo gak nangis, sentil kakinya” perintah si bidan. Aku merasa lucu untuk perintah yang satu ini. Tapi tetap aku kerjakan, setiap kali bayi itu diam, aku selalu dengan iseng dan gemas, menyentil ibu jari kakinya yang mungil. Dan dengan segera di membalasnya dengan tendangan kecil yang manja, lalu memangis. .
Kemarin dengan sengaja aku mencoba mencari tahu berita tentang kasus bayi yang dibuang di RSUD 45 Kuningan di internet. Dan ada hasilnya. Disana dikatakan keadaan bayi itu membaik. Sekarang mungkin dia telah tumbuh besar menjadi bayi lucu yang menggemaskan, sebentar lagi umurnya setahun.
Aku jadi teringat akan kalimat bidan waktu itu. “masih 7 bulanan, testisnya belum turun, saya hampir sepuluh tahun menunggu, belum dapat, dan ini yang dikasih malah nyia-nyain”.
 Ya itulah kehidupan, dimana ketika pihak kita sangat meninginkan, dipihak lain hal itu justru disia-siakan.            
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar